Wednesday, 16 November 2016

Resep Membuat Cilok Alakadarnya yang Lezat



Cilok Saus Cabe



Beberapa hari terakhir ini, Depok selalu diguyur hujan. Gak pagi, siang, sore atau malam. Udara dingin yang dihantarkan membuat perut dangdutan minta agar segera dimasuki sesuatu. Sayangnya, saat hujan melanda, akses keluar untuk membeli cemilan atau jajanan terhalang. Jalan satu-satunya adalah dengan memanfaatka bahan-bahan yang tersedia di rumah. Begitu buka lemari, untungnya masih ada tepung terigu dan tepung kanji yang masih tersisa. Otak saya pun segera bekerja untuk menghasilkan suatu makanan. 

CILOK!

Siapa sih yang tidak mengenal cilok? Cilok atau singkatan dari aci dicolok ini merupakan jajanan khas Sunda yang dibuat dari bahan tepung terigu dan tepung kanji yang diolah dengan cara direbus. Semua kalangan dari anak-anak, remaja, dewasa bahkan yang sudah tua juga gemar memakan jajanan ini. Bahkan, sekarang ini, nama cilok sudah tak asing lagi di kalangan masyarakat di seluruh Indonesia. Harganya pun relatif murah. 

Banyak yang menjadikan cilok sebagai peluang usaha bisnis kuliner. Berbagai varian pun disuguhkan untuk menarik minat pembeli. Untuk rasa gurih, Anda bisa menambahkan varian isi berupa bakso, sosis, ikan, kentang dan lain-lain. Atau jika ingin menambahkan rasa manis di dalamnya, Anda bisa memanfaatkan saus strawberry, keju, coklat atau vanilla. Untuk sausnya, jangan hanya terpaku pada saus kacang saja seperti jajanan cilok pada umumnya. Anda bisa mengkreasikan dengan bahan lain seperti menggunakan saus barbeque, teriyaki, saus oriental atau saus pedas manis. Anda pun bisa menjualnya dengan cara keliling menggunakan gerobak atau membuka stan sendiri di warung cilok Anda.

Nah, karena bahan yang ada di rumah hanya terbatas, jadi, resep yang akan saya bagikan tentunya yang alakadarnya. Meskipun begitu, tetap tak mengurangi rasanya yang lezat lho … simak, yuk!

Cara Membuat Cilok Alakadarnya yang Lezat
Bahan utama:
-          Air untuk merebus secukupnya
-          250 gram tepung kanji (ayak)
-          250 gram tepung terigu (ayak)
-          Daun bawang secukupnya, iris
-          Kaldu bubuk secukupnya
-          Garam secukupnya
-          Air hangat secukupnya
Bumbu untuk dihaluskan:
-          3 siung bawang putih
-          1 bungkus merica bubuk (saya beli yang rencengan)
-          Setengah bungkus teri putih (saya gak tahu pasti jumlah gramnya. Cuma kalau suka beli di warung itu teri warna putih kecil-kecil itu saya pakai setengahnya)

Cara membuat cilok:
-          Ke dalam terigu yang telah diayak, masukan air hangat, bumbu yang sudah dihaluskan, kaldu bubuk dan garam secukupnya kemudian aduk rata. Masukan tepung kanji lalu masukan lagi air sedikit demi sedikit sembari diuleni hingga kalis. Bila dirasa kurang kalis, bisa ditambahi tepung kanji. Jangan lupa dicoba dulu rasanya. Dari rasa gurih normal yang biasa saya taksir, saya naikkan satu level karena nanti akan melebur dengan rebusan air.
-          Siapkan air dalam panci, didihkan. Sambil menunggu air mendidih, adonan yang sudah kalis tersebut dibentuk adonan bulat-bulat kecil atau sesuai selera. Lakukan hingga adonan habis.
-          Sesudah mendidih, masukan adonan cilok yang sudah dibentuk bulat-bulat tadi. Jika mengapung, tandanya cilok sudah matang. Angkat lalu tiriskan.

Seperti yang sudah saya kemukakan di atas, bahan-bahan yang terbatas di rumah membuat saya tidak bisa membuat saus kacang sebagaimana biasanya. Maka, sebagai ganti saya memakai saus cabe dan kecap botolan yang selalu saya sediakan sebagai menu tambahan makanan dan bumbu masakan. Tetap enak dan lezat kok. Ciyus.
Tapi berhubung kayak kurang afdol, sekalian saja saya bagikan cara membuat saus kacang. Biar bisa dipraktekkan oleh Anda di rumah. Yuk, simak!

Bahan-bahan membuat saus kacang:
-          150 gram kacang tanah, goreng, tiriskan
-          Cabe rawit secukupnya
-          1 siung Bawang putih
-          2 buah kemiri
-          Gula merah secukupnya
-          Kecap
-          Garam
-          Daun jeruk
-          Minyak untuk menumis
Cara membuat
-          Kacang tanah, cabe rawit, bawang putih, kemiri lalu tumbuk hingga halus
-          Panaskan minyak, masukan kacang yang sudah dihaluskan tersebut. Masukan daun jeruk, gula, garam dan rasakan. Bisa ditambah kecap untuk warna lebih menarik.
-          Bila sudah mengental, angkat dan tuangkan pada cilok matang yang sudah ditata.

Naaahh, mudah dan praktis, bukan? Camilan ini sangat cocok di saat santai keluarga.

Monday, 7 November 2016

Serunya Acara Bilik Sastra VOI Award 2016. Juri Irwan Kelana: Cerpen Yang Dipilih Adalah Cerpen Dengan Konflik Kuat

Pembukaan acara: Tari Merak oleh Mahasiswi Unindra

Pagi yang tenang itu tiba-tiba terusik begitu saya buka email lalu mendapatkan undangan dari salah satu program acara kece yang mana karya saya pernah dikirim ke sana, tahun 2015 lalu. Program itu bernama Bilik Sastra yang diadakan oleh Voice of Indonesia, Radio Republik Indonesia. Melalui blog www.pipitsenja.net, Bilik Sastra adalah sebuah program VOI RRI yang mengedepankan sastra migran, membincangkan karya berupa cerpen, kisah inspirasi dari WNI yang bermukim di luar negeri. Program ini digagas oleh Kabul Budiono dan Pipit Senja sendiri di penghujung tahun 2010, diluncurkan secara resmi untuk pertama kalinya siara langsung di gedung Pusat Dokumentasi HB Jassin Taman Ismail Marzuki, Januari 2011. Dengan kata lain, tahun 2016 adalah tahun kelima penyelenggaraan award tersebut.

Jadi, bagi siapapun yang sedang berada di luar negeri, boleh mengirimkan cerpen andalannya ke email voirri@gmail.com. Kamu tinggal tunggu konfirmasi via email dari crew untuk memberitahukan bahwa cerpen akan dibacakan dan diulas. Nah, pada hari itu, biasanya kamu akan ditelepon langsung, ditanya proses dibalik penggarapan atau apapun itu oleh penyiar, suara kamu mengudara dan kamu bisa berbagi ilmu dan pengalaman dengan pendengar dari penjuru dunia yang sedang mendengar acara tersebut. Setiap tahunnya, dari cerpen-cerpen yang masuk tersebut akan disaring lalu ditentukan pemenangnya.

Singkatnya, Minggu pagi tanggal 6 November 2016, saya memenuhi undangan tersebut. Karena bakalan ribet jika naik kendaraan umum, teman menyarankan agar naik ojek online. Meski sempat terjebak macet di daerah Cinere, Pondok Indah dan Gandaria, Alhamdulillah saya hanya telat 10 menit dari waktu yang ditentukan di surat undangan.

Pukul 11.40 WIB saya sampai di Hotel Santika Premier. Saya pun segera bertanya kepada bapak resepsionis di mana ruang Betawi 2. Untunglah acara belum dimulai. Malah saya dikasih souvenir dan kupon makan siang. Saya pun dipersilahkan makan dulu di restoran di lantai 2. Memang saya sengaja mengosongkan perut untuk diisi dengan makanan aduhai enak ala resto. Udik? Bodo. Hehehe …. Namun kesempatan itu tidak serta merta saya manfaatkan dengan melahap banyak makanan. Faktor utamanya adalah saya malas makan sendirian. Apalagi di tengah orang asing. Inilah salah satu kekurangan saya. Saya kurang pandai tepe-tepe. Lantas, saya hanya memakan buah-buahan dan beberapa jenis masakan saja.
Lokasi acara
Makaaaann

Pada pukul 12.00 WIB, acara pun dimulai. FYI, untuk tahun ini, ada beberapa keistimewaan yang tidak dirasakan di tahun sebelumnya, yakni:
  •  Bunda Pipit Senja selaku salah satu pengasuh Bilik Sastra menegaskan bahwa ada 38 cerpen bagus yang terpilih. Menurutnya, 38 cerpen tersebut layak untuk dibukukan. Namun karena ketentuan yang harus dipatuhi, maka terpilihlah 20 cerpen terbaik. Btw, saya masuk di dalamnya lhoo. #bangga. Dari 20 cerpen itu lantas dipilih oleh juri Bapak Irwan Kelana dan Bapak Syarifudin Yunus menjadi 3 pemenang. Berikut adalah nama pemenangnya:

-          Pemenang 1, Justto Lasoo dengan karya berjudul Ayah (Taiwan)
-     Pemenang 2, Yesi Armand Sha dengan karya berjudul Langit Berwarna Hitam (Hong Kong)
-          Pemenang 3, Erna Eruna dengan karya berjudul Seiris Prasangka (Turki).
Selamat buat pemenang ya! Kalian berhasil mencambuk saya. :D
  •  Drs. Eddy Sukmana, S.H., M.M., M.H dalam sambutannya mengungkapkan bahwa untuk Bilik Sastra Award 2016 mendapat kemajuan. Bila tahun lalu hanya 2 pemenang saja, maka untuk tahun ini ada 3 pemenang yang diundang dan diakomodasi. Selain itu, penyerahan award-nya juga dilakukan di hotel bukan di RRI-nya. 

  • Sambutan Bapak Drs. Eddy Sukmana, S.H., M.M., M.H


Pada sesi dialog interaktif yang bisa didengar di aplikasi RRI World Service yang bisa diunduh di playstore atau streaming http://voi.co.id, Nova Kasim selaku moderator sempat bertanya kepada juri mengenai kriteria cerpen yang menjadi juara. Irwan Kelana menjawab, cerpen yang dipilih adalah cerpen yang memiliki konflik kuat. Dengan membacanya, pembaca seperti terhanyut ke dalam kisah yang disuguhkan. Selain itu, cerpen yang memiliki pesan moral juga menjadi satu pertimbangan besar untuk bisa dibacakan dan menjadi nominator. Seperti cerpen berjudul Ayah yang ditulis oleh Justto Lasoo yang keluar sebagai pemenang 1. Cerpen tersebut mengisahkan tentang seorang anak yang tidak tahu di mana dan wajah Sang Ayah.
 
Kak Justto saat penerimaan award

Menyaksikan semua acara dari awal sampai akhir membuat semangat menulis saya kembali berkobar. Pasalnya, entah mengapa, setibanya kembali ke Tanah Air, saya menjadi kurang produktif menulis. Bawaannya malassss rrruar biasa. Dikatakan masa transisi dari Hong Kong ke Indonesia? Enggak juga, sih. Itu mah hanya alasan yang saya buat-buat saja sepertinya. Tapi yaa, saya gak sepenuhnya menyalahkan diri sendiri. Adakalanya seseorang itu berada di titik jenuh dalam hidupnya.

Oh, iya, di acara tersebut diundang pula Kak Ahmad Fuadi lho. Tahu kan, siapa dia? Ya, dia adalah penulis novel 5 Menara yang terkenal itu. Sempat foto bareng, tapi entah di kamera siapa. Huhuhuhu #nangis kejer.
Tak lupa, Kak Ahmad Fuadi memberikan tips khusus sukses yang kamu bisa baca dari novel yang pernah ditulisnya. Apa saja? Simak ya …
1.      Man jadda wa jada, artinya siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil.
2.      Man shabara zhafira, artinya siapa yang  bersabar maka ia akan beruntung
3.      Yang ini saya lupa kalimatnya bagaimana. Tapi intinya mah tentang kekonsistenan dalam berusaha.
Jleb banget, bukan? Hati saya sakit setelah cambukan yang bertubi dari sana sini.

Acara berakhir pukul 14.00 WIB. Satu hal yang saya rasakan atas acara kemarin adalah syukur. Yang hadir di acara tersebut itu terbatas dan saya termasuk salah satu yang terbatas itu. Alhamdulillah banget, kan? Saya jadi berpikir, mungkin inilah cara Allah untuk memantik semangat saya yang sempat padam. Diawali dengan tulisan ini, saya pun ingin menulis kembali. Bismillah …

Sekali lagi, selamat ya, untuk para pemenangnya!


Berikut oleh-oleh dari Hotel Santika Premier

Dari kiri ke kanan : Justto Lasoo, Yesi Armand Sha, Erna Aruna

Salah satu souvenir: kumpulan cerpen bilik sastra VOI 2015

Selpie with Yesi

Suasana ruangan Betawi 2

Bersama Bunda Pipit Senja
Kiri ke kanan: Yesi, Mbak Wati, Pak Prapto dan saya yang imut
Kak Ahmad Fuadi saat menerima plakat kenang-kenangan

Sunday, 23 October 2016

Cerita Parade Batuk yang Menjengkelkan dan Pahlawan Jahe



Beberapa hari terakhir ini, cuaca Depok dan sekitanya sungguh tidak keruan. Sebentar panas, sebentar diguyur hujan. Wajar saja jika hal ini menyebabkan tubuh sekeluarga drop. Kami sekeluarga terjangkiti batuk!

Batuk, seperti yang saya baca di internet sebenarnya adalah salah satu cara tubuh untuk membersihkan partikel asing, kotoran, lendir atau mikroba dari paru-paru dan saluran pernapasan bagian atas, atau sebagai reaksi atas saluran pernapasan yang gatal atau terganggu. Nah, baru dikatakan sebagai penyakit apabila sudah memiliki frekuensi batuk yang cukup sering.

Mendengar parade batuk di rumah saya yang sudah cukup berisik di telinga, ini sudah mengindikasikan bahwa batuk mereka bukan lagi sebagai batuk biasa, melainkan batuk penyakit. Sayapun tergerak untuk melakukan sesuatu sebagai upaya memberantas batuk. Hal pertama yang harus saya lakukan adalah mengenali jenis batuk yang menjangkiti keluarga.

Umumnya dikenal ada dua jenis batuk. Jenis yang pertama yaitu batuk produktif (batuk berdahak), yaitu keadaan di mana batuk diiringi dahak. Keluarnya dahak ini dapat berasal dari hidung atau kerongkongan yang berasal dari paru-paru. Batuk jenis ini terjadi pada saya. Apabila saya batuk, pasti tenggorokan saya seperti ada ganjalan menyebalkan yang mengharuskan saya agar batuk lebih kuat lagi. Ini jelas tidak benar karena bisa menyebabkan iritasi pada tenggorokan. Karena kondisi seperti ini, akhirnya saya mencoba menelaah dari mana muasal batuk saya terjadi. 
Berikut beberapa kondisi yang dapat menyebabkan batuk berdahak:
  •  Infeksi virus adalah normal jika kita batuk berdahak saat menderita common cold. Batuk biasanya dicetuskan oleh dahak yang ada di kerongkongan
  • Infeksi. Infeksi yang menyerang paru-paru dan saluran napas bagian atas dapat menyebabkan batuk. FYI, batuk berdahak ternyata merupakan tanda penyakit pneumonia bronchitis, sinusitis atau TBC. Mengetahui hal ini saya jadi gemetaran sendiri. Ciyus!
  • Penyakit paru menahun.
  • GERD. Ini terjadi saat asam lambung naik ke tenggorokan dan menimbulkan batuk terutama saat tidur.
  •  Pilek. Cairan yang dari hidung turun ke kerongkongan dan menimbulkan batuk.
  • Merokok. Asap rokok yang masuk ke saluran napas akan merangsang pengeluaran lendiri dan menyebabkan batuk. Ini tentu bukan penyebab saya batuk sebab saya tidak merokok.

Jenis yang kedua adalah batuk non produktif. Sifatnya kering dan tidak berdahak Ini yang terjadi sama Pangeran Kecil dan Ibu Suri. Pas ditanya ada dahak atau tidak, jawab mereka gak ada.. Ada beberapa kondisi yang menyebabkan terjadinya batuk kering, diantaranya:
  • Infeksi virus. Setelah sembuh dari common cold biasanya diikuti dengan munculnya batuk kering sampai beberapa minggu. Batuk biasanya bertambah parah saat malam hari.
  • Bronchospasme. Batuk kering di malam hari secara tiba-tiba umumnya disebabkan oleh spasme/penyemptan saluran bronchus yang dicetuskan oleh iritasi.
  • Alergi. Batuk ini biasanya diikuti dengan bersin-bersin.
  • Obat-obatan.
  • Asma. Batuk kering kronisisa jadi merupakan gejala ringan dari asma.
  • Penutupan saluran napas oleh benda asing seperti makanan/pil.

Karena perbedaan jenis batuk inilah, saya pun membagi metode pengobatan sesuai jenis batuknya. Adapun untuk batuk berdahak yang sedang saya rasakan, saya lebih kepada pencegahan secara alami misal memperbanyak minum air putih khususnya air hangat untuk mengencerkan dahak dan lebih mudah dibatukkan. Saya juga memilih memakan makanan yang tidak berminyak dan tidak pedas. Sementara waktu saya mengindari dulu minum kopi dan menjaga agar tubuh tetap hangat serta istirahat yang cukup.

Sementara untuk Pangeran Kecil dan Ibu Suri, selain saya beli obat terpercaya, saya juga buatkan ramuan alami yang sudah berkhasiat secara turun menurun mengobati batuk. Kebetulan di rumah ada madu kiriman teman. Saya campurkan dengan perasan lemon ke dalam air hangat. Kita juga bisa membuat rambuan kecap lemon yang sudah terkenal itu.

Selain itu, ternyata, jahe juga juga bisa menyembuhkan batuk lho. Caranya adalah dengan mendidihkan irisan jahe, setelahnya angkat dan tambahkan sesendok madu atau kalau tidak ada madu, bisa diganti oleh gula jawa. Minum ketika masih hangat. Minuman ini bisa menghangatkan tenggorokan dan badan dalam waktu bersamaan.

Lantas kepada Ibu Suri saya berpesan agar jangan dulu banyak pekerjaan. Istana tidak sedang kedatangan tamu jadi tidak apa-apa kalau berantakan dikit. Kepada Pangeran Kecil juga begitu. Jangan dulu keluyuran. Ah intinya sih saya cuma ingin mereka di rumah saja, istirahat yang cukup sampai keadaan kembali seperti sediakala. 



foto sumber : internet



Monday, 3 October 2016

Nay's Adventures: Mengemas Rindu di Kubah Emas



Masjid Kubah Emas

Di setiap perjalanan yang pernah kita lalui, ada beberapa bagian yang tidak akan mungkin kita lupakan begitu saja. Beberapa bagian itu bisa kita bagi untuk diceritakan, beberapa bagian lainnya mungkin ada yang memilihnya untuk disimpan sebagai kenangan usang saja. Mungkin bagi saya, kamu dan dia, juga kalian, bisa jadi kenangan adalah alat untuk mendobrak pintu semangat, memotivasi diri agar menjadi jauh lebih baik lagi. Kekosongan hati yang terisi hangat bahagia, kesepian yang terisi canda tawa, harapan yang terisi khayal realita, kesedihan yang terisi rayuan semangat, juga rangkul genggam di setiap suasana. Ya, saat ini saya sedang mengenang itu semua.

Ketika mengenang, banyak yang bisa kita lakukan. Kadang orang memilih menapaki alur-alur cerita  flashback dalam benak, ada pula yang memilih mendengarkan lagu atau film yang akan membangkitkan kenang, bisa juga dengan memandang foto dalam galeri ponsel atau album di akun jejaring sosial, atau bila rindu sudah berjejalan di hati dan pikiran, mengadu kepada Sang Pencipta adalah hal terbaik yang bisa menjadi pilihan.

Awalnya saya tidak sengaja melakukan perjalanan ini. Dari yang tadinya berniat hanya mengisi bensin, membeli batagor untuk mengganjal perut lalu kembali ke rumah, namun praktiknya, saya membawa laju motor ke sebuah masjid yang sangat terkenal, yang ingin sekali saya menyambanginya sejak dulu. Meski mengadu bisa dilakukan di mana saja karena Allah Maha Mendengar, nyatanya, sugesti diri menyebabkan saya berkunjung ke satu tempat. Tempat itu bernama Masjid Kubah Emas.


Ternyata hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit perjalanan dari kediaman. Masjid Dian Al Mahri atau yang juga dikenal Masjid Kubah Emas adalah sebuah masjid yang dibangun di tepi jalan Raya Meruyung, Limo, Depok. Pemiliknya bernama Hj. Dian Djuriah Maimun Al Rasyid, pengusaha asal Banten, yang telah membeli tanah tersebut sejak tahun 1996.

Sebelumnya, pada Rabu pagi tanggal 28 September, saya ke tempat itu. Tapi saya tertegun ketika mendapati pagar masih digembok. Ternyata, masjid yang bisa menampung 20.000 jamaah itu buka mulai jam 10 pagi dan ditutup kembali jam 8 malam. Lalu saya kembali pada hari Minggu tanggal 2 Oktober dengan segenap rasa yang tumpah ruah di dalam dada.

Begitu memasuki parkiran, suara adzan menggema memenuhi semesta. Angin sore yang lembut menerpa jilbab yang saya kenakan. Dari parkir motor menuju bangunan utama, kita bisa berjalan kaki sekitar 10 menit. Sambil menikmati pemandangan di sekitar yang sejuk, taman-taman tertata rapi, rerumputan hijau yang membentang, juga pasangan pengunjung yang sayang sekali andai dilewati dengan tidak mengabadikan moment tersebut melalui kamera.


Saya foto dari trotoar dekat tempat parkir

Ketika tiba di bangunan utama, saya jadi tahu bahwa ada 2 bagian masjid. Maksudnya, pintu masuk pria dan wanita itu dipisahkan. Dari tempat pria, wanita yang hendak memasuki masjid diharuskan berjalan sekitar 5 menit. Sebelum naik ke bangunan, kita terlebih dahulu melepas alas kaki dan menitipkannya di bagian penitipan barang. Uniknya, tempat penitipan barang itu ruangannya ada di bawah tanah. Arsiteknya jeli merancang bangunan agar tidak menggangu kenyamanan dan keindahan bangunan dengan hal sepele tersebut.

Tempat penitipan barang di ruang bawah tanah
Saya mulai merasakan atmosfir hampa ketika memasuki aula masjid. Hampa di sini bukan karena saya tidak bahagia. Masa bertemu dengan Kekasih tidak bahagia? Tidak. Justru saya bahagia bisa mendatangi salah satu rumah Allah yang terbesar di Asia Tenggara tersebut. Hal yang membuat hampa di sini adalah ketika melihat kawanan sahabat yang saling foto dan selfie. Saya jadi ingat sahabat-sahabat terbaik saya yang kini terpisah jarak. Biasanya, jika Minggu pagi datang, mereka mencari saya, mengkhawatirkan keberadaan saya, saya dengan siapa, posisi sedang di mana, sudah makan atau belum. Ya, saya akui, inilah yang mendasari perjalanan saya. Saya rindu!

Aula Bagian Wanita
Melihat mendung yang mulai menyerbu langit, saya segera pergi ke tempat wudhu. Sama halnya dengan tempat penitipan barang tadi, letak tempat wudhu pun berada di bawah bawah tanah. Tempatnya bersih dan tertata. Dan dibasuh air wudhu yang suci, saya siap menghadap Allah.

Memasuki dalam masjid, ada dua penjaga wanita di pintu masuk. Mereka menunjukkan kepada saya tempat meminjam mukena. Ada lemari khusus mukena dan tempat menyimpan AlQuran. Saya pilih bekas ibu-ibu yang kebetulan sedang dilipat. Sambil menenteng mukena, saya memilih sholat di depan.

Maha Suci Allah, masjid ini sungguh luar biasa indah. Ornament di langit-langit masjid terlihat memukau. Ditambah dengan lampu hias yang menggantung kokoh, jika diamati, ornament itu serupa dengan ornament yang pernah saya jumpai ketika saya mengunjungi The Venetian, Macau. Benar saja. Ketika membuka situs tentang Masjid Kubah Emas, di sana disebutkan bahwa lampu gantung tersebut sengaja didatangkan langsung dari Italia. The Venetian also called Little Venice. That’s why …



Gerimis hampir datang dan rindu yang terobati. Saya pun mengakhiri perjalanan kali ini dengan hati yang terisi. Sebelum motor yang saya tumpangi melesat ke keluar, saya tatap kembali bangunan emas tersebut seraya bertekad akan mengunjunginya kembali. Mungkin tahun ini saya bisa memboyong salah satu dari sahabat saya. Tahun depannya, saya juga bisa mengajak sahabat yang satunya lagi untuk berkunjung. Selain itu, saya juga bisa mengajak keluarga kecil saya yang ditambah angka satu, satu dari napas baru kehidupan. Insya Allah. Aamiin.

Tempat Khusus Pria
Menuju Tempat Penitipan

Tempat Wudhu Bawah Tanah

Taman dilapisi rerumputan hijau

Menuju ruang ibadah wanita



Epilogue: ketika di parkiran hendak pulang, ada anak kucing menghampiri saya, mengajak saya bermain. Saya yang penyuka kucing merasa terberkahi. Hingga motor hendak melaju pun, kucing berwarna hitam tersebut mengikuti saya dari belakang. Andai saya punya hak, sebenarnya saya ingin memeliharanya. Tapi takut ibunya mencari. Semoga saja di kunjungan berikutnya saya masih bisa bertemu kucing itu lagi.

Saya kiyut, kan?