Wednesday, 8 June 2016

Nay's Adventures : Piknik Ke Tung Lung Chau





PIKNIK KE TUNG LUNG CHAU : Memaknai perjalanan bersama teman seperguruan

Menjadi salah satu Buruh Migran Indonesia yang bekerja di Hong Kong merupakan sebuah anugerah yang Tuhan berikan bagi siapa saja yang bisa memanfaatkan waktu luang di tengah kesibukan bekerja. Apalagi pemerintah Hong Kong memberikan hak libur seminggu sekali. Hal ini mendorong adanya berbagai kegiatan positif dalam rangka menghabiskan waktu liburan tersebut. Bagi yang senang belajar, ada banyak kursus-kursus. Diantaranya: kursus menjahit, kursus make up, kursus bahasa Inggris dan masih banyak lagi. Bagi yang suka berorganisasi, di Hong Kong bertebaran berbagai organisasi dengan aktivitas-aktivitas yang beragam. Ada pula yang menghabiskan waktu liburnya dengan wisata keliling Hong Kong. Menjelajah tiap lekuknya, menikmati indahnya kebingharan dan keheningan kota Hong Kong.
Tung Lung Island atau yang dikenal pula dengan sebutan Nam Tong Island adalah sebuah pulau yang terletak di ujung Clear Water Bay di New Territories Hong Kong. Pulau yang tidak berpenghuni ini secara administratif adalah milik Distrik Saikung. (www.wikipedia.com)

Saya beserta teman seperguruan (baca: kuliah) mengadakan perjalanan ini dalam rangka piknik pasca UAS. Sehabis bertempur dengan soal-soal, otak membutuhkan suatu penyegaran. Maka, dipilihlah Tung Lung Chau karena track perjalanan terbilang mudah dan cocok untuk pemula.
Pada akhir pekan, layanan transportasi tersedia dari Sam Ka Tsuen Ferry Pier dari Yau Tong exit A2. Tiket pulang pergi seharga HKD 45. Namun, kami lebih memilih rute dari Sai Wan Ho Ferry Pier. Kami hanya turun di MTR Sai Wan Ho exit A1, belok kanan, jalan lurus sekitar 15 menit hingga menemui dermaga, dan sebuah kapal ferry kecil akan membawa kami melintasi lautan menuju Tung Lung Island. Namun ingat, ada waktu-waktu tertentu baik keberangkatan maupun kepulangan.
Jadwal untuk hari Minggu dan libur resmi, tarif ongkos pulang pergi sebesar HKD 55
Dari Sai Wan Ho
08.30
09.45
11.00
14.15
15.30
16.45
Dari Tung Lung Island
09.00
10.20
13.45
15.00
16.00
17.30

Selama kurang lebih 45 menit dimanjakan dengan angin laut, akhirnya tiba di dermaga Tung Lung Chau. Sebelum melakukan perjalanan, saya dan teman-teman yang ikut tak lupa berdoa terlebih dahulu agar diselamatkan dari awal hingga akhir perjalanan.
Perjalanan pun dimulai …
Mata kami tak henti memandang paparan keindahan yang disuguhkan alam. Apalagi Minggu itu cuaca begitu mendukung. Langit biru menghiasi angkasa. Meski panas terik, namun keceriaan teman-teman seperti menghapus cucuran keringat yang mengalir dari pelipis.
Setelah beberapa menit berjalan, kami bertemu dengan sebuah bukit yang dinamakan Hen Hill. Hen adalah bahasa Inggris yang berarti induk ayam. Ya, sebab apabila dilihat dari kejauhan lalu kita berimajinasi, maka puncak Hen Hill yang sebenarnya adalah bongkahan batu besar itu menyerupai induk ayam yang sedang bertengger di puncak. Namun percayalah, ketika kita sudah menginjakkan kaki di atas batu Hen Hill, mulut tak henti berdecak kagum. Di utara, penglihatan kita diserbu oleh pemandangan dari Clear Water Bay Peninsula dan Joss House Bay. Sejauh mata memandang, biru dan biru. Menakjubkan. Belum lagi di daerah barat, Hong Kong Island menjadi latar pemandangan yang tak kalah menakjubkan.
Hen Hill

Menikmati udara dari puncak Hen Hill




Puas mengabadikan momen indah tersebut bersama teman, kami pun melanjutkan perjalanan. Dari Hen Hill berjalan menuruni bukit. Kanan kiri kami adalah tanaman pendek-pendek. Bayangkan Anda berada di perkebunan teh di Bandung. Nah, seperti itulah kami melintasi tanaman-tanaman tersebut. Kami berjalan di jalan setapak yang membelah tanaman. Disarankan memakai celana panjang saat melakukan perjalanan ini atau nasib teman saya yang baret-baret karena tergores dahan kering tanaman akan Anda alami. Akhirnya setelah melewati perkebunan itu, kami menemukan jalan mudah dilalui. Tujuan kami selanjutnya adalah Tung Lung Fort Special Area.
Dari timur laut pulau, sekitar 20 menit perjalanan dari dermaga terdapat area untuk orang-orang yang suka berkemah. Area perkemahan itu sebenarnya adalah sisa-sisa Tung Lung Chau Fort yang dibangun antara tahun 1662 dan 1722 itu digunakan sebagai benteng untuk mempertahankan pulau dari bajak laut. 
Pohon Pinus di Area Perkemahan

Saat itu, sinar mentari sedang berada di puncaknya. Kami memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon pinus yang letaknya masih di sekitar area perkemahan. Sambil membuka bekal makan siang masing-masing, saya dan teman-teman berebut canda dan cerita.
Ternyata, tak jauh dari kami beristirahat, di bawahnya terdapat semenanjung. Ombaknya kecil namun batu karangnya tinggi menjulang. Kami pun berfoto di sana dengan latar lautan biru yang indah. Sebelum melakukan perjalanan ini, saya baca di Wikipedia sebagai panduan. Di Tung Lung Chau juga terdapat area yang bisa digunakan untuk panjat tebing, lho. Tapi tentunya hanya boleh dilakukan bagi mereka yang sudah ahli saja. 
Laut di Bawah Pohon Pinus

Sebenarnya masih banyak lagi tempat-tempat indah yang harus dikunjungi. Ada tempat bersejarah Dinasti Era, Radio Station, Helipad (tempat mendaratnya helikopter), The Summit (puncak tertinggi) yaitu sekitar 232 di atas permukaan laut. Namun belum bisa kami kunjungi satu persatu dikarenakan keterbatasan waktu.
Sekitar jam 2 siang, kapal datang menjemput kami. Senyum kepuasan tampak di wajah lelah saya dan teman-teman. Waktu tidak akan bisa datang lagi, kesempatan kedua mungkin tak akan seindah kesempatan pertama. Bagi saya, perjalanan itu tak hanya perjalanan biasa. Sebab ketika Anda bersama teman yang saling bahu membahu dalam hal kebaikan, momen indah inilah yang akan menjadi bekal cerita kita untuk disampaikan kepada teman, saudara, anak dan keluarga ketika ‘perjalanan sesungguhnya’ kita akhiri. Lantas, kita pun bisa dengan bangga berkata, “betapa beruntungnya saya!” (Riana Dewi)
 

Biru dan Biru
 


*Tulisan ini pernah dimuat di Berita Indonesia, koran lokal berbahasa Indonesia yang terbit di Hong Kong

Tuesday, 7 June 2016

Nay's Adventures : Perjalanan Bahagia Selama 8 Jam di Macau



The Venetian, Macau
Perjalanan Bahagia Selama 8 Jam di Macau


Macau terletak di sisi barat dari Delta Sungai Pearl di seberang Hong Kong, yang berjarak sekitar 64 kilometer ke arah timur, dan juga berbatasan dengan Guangdong dari Daratan Cina di utara dan Laut Cina Selatan ke timur dan selatan. (www.wikipedia.com). Karena proses perjalanan yang mudah dan tidak ribet (tanpa visa perjalanan), Macau sering dijadikan alternatif Buruh Migran Indonesia untuk berlibur atau jutking (cop visa).
Banyak tempat pilihan yang bisa dijadikan wisata. Namun jangan heran andaikata di sana terdapat banyak kasino. Ya, julukan Macau adalah kota judi. Bahkan Macau juga disebut-sebut sebagai Las Vegas-nya Asia sebab perekonomian wilayah ini memang sangat tergantung pada kegiatan perjudian dan pariwisata kotanya.
Kasino selain untuk judi bisa juga sebagai tempat rekreasi. Apabila dilihat dari luar, gedung kasino tidak tampak seperti kasino, justru malah terlihat seperti istana mewah yang di dalamnya terdapat ornamen-ornamen dan ukiran menakjubkan hasil rancangan desainer bangunan terkenal.
Dibalik cerita kemegahan Macau saat ini, Macau adalah bekas jajahan Bangsa Portugis selama kurang lebih 400 tahun dan diambil oleh pemerintahan Cina pada tahun 1999. Banyaknya bangunan peninggalan Portugis menjadikan Macau seperti salah satu kota kecil di Eropa. Bagusnya, bangunan-bangunan dari masa kolonial itu dirawat baik sehingga menjadikannya sebagai daya tarik pariwisata. 

Menuju Macau
Menuju Macau bisa dilakukan dengan 2 cara yaitu naik pesawat atau ferry dari pelabuhan Hong Kong. Bagi BMI seperti saya, opsi kedua adalah pilihan tepat. Selain menghemat uang, ketika memasuki badan ferry, kita tak ubahnya seperti naik pesawat. Kursi tertata rapi di atas karpet merah yang terbentang juga desain interiornya yang mewah. Bedanya, karena kita berada di atas laut, gelombang ombak menyebabkan ferry terombang-ambing. Namun jangan khawatir, sudah disediakan kantong muntah bagi penumpang yang mabuk laut.
Perjalanan dari pelabuhan Hong Kong menuju pelabuhan Macau kira-kira satu jam. Setibanya di pelabuhan Macau, kitapun siap menjelajahi Macau.
Tips: untuk menghemat uang, Anda bisa membeli tiket round trip dengan jam kepulangan (Macau-Hong Kong) yang bisa kita atur. Semakin pagi berangkat, semakin banyak waktu yang bisa dihabiskan di Macau.

Jalan-jalan di Macau
Macau terbagi menjadi empat wilayah yang dinamakan Macau Peninsula, Taipa, Cotai, dan Coloane (www.wikipedia.com). Untuk gampang mengingatnya, Macau Peninsula adalah area favorit para turis; Taipa adalah lokasi di mana bandara Macau berada; Cotai adalah daerah yang terkenal akan kasino dan nightlife-nya; sedangkan Coloane boleh dikatakan sebagai "desa"-nya Macau.
Saya melakukan perjalanan ini bersama dua sahabat saya. Dari jauh hari, mereka memercayakan  destinasi 'ekspedisi' kepada saya sebab saya pernah beberapa kali ke Macau sebelumnya. Maka, tujuan pertama jalan-jalan di Macau adalah City Of Dream. Untuk sampai ke 'Kota Impian' tersebut, dari pelabuhan Macau, pengunjung bisa naik bus gratis yang disediakan di halte. Arahnya, dari pintu keluar pelabuhan itu jalan menuju terowongan yang memisahkan pelabuhan dan halte bus. Di halte bus, berderet bus-bus dengan tempat tujuan masing-masing. Pengunjung bisa memilih sesuai tujuan yang diinginkan. Tapi ingat, bus gratis ini hanya berlaku dari kasino ke kasino.
Kurang lebih 45 menit perjalanan akhirnya kita sampai di City Of Dream. Niat saya membawa teman saya adalah agar mereka bisa menyaksikan Dragon Show yang sangat terkenal itu dengan biaya yang bisa dijangkau oleh BMI. Namun sayang, ketika saya tanya ke satpam di sana, pertunjukan naga sudah lama tidak tidak digelar, diganti dengan Dancing Water yang harga tiketnya cukup mahal bagi BMI seperti saya yakni HK$1.480 untuk kelas VIP (sumber: www.thehouseofdancingwater.com). Maka, kami memutuskan untuk mengabadikan momen tersebut melalui kamera dan berselfie ria.
Puas berfoto-foto, kami melanjutkan ekspedisi. Tujuan berikutnya adalah The Venetian. Kenapa pilih The Venetian? Karena letak bangunannya yang bisa dijangkau jalan kaki dari City of Dream. The Venetian resmi dibuka Agustus 2007. Sejak saat itu, The Venetian menjadi salah satu pusat pariwisata di Asia. Seperti namanya, The Venetian memang meniru konsep Venesia di Eropa, dan merupakan 'sister building' dari Venetian di Las Vegas, sebuah wilayah yang terdiri banyak kanal dan apabila ingin menyusurinya, Anda harus menggunakan gondola atau perahu kecil. Di The Venetian Macau, pengunjung bisa menyewa gondola seharga Mop128 untuk dewasa.
Ketika sampai The Venetian, hal pertama yang kami lakukan adalah berfoto ria. Bangunan seluas 980.000 meter tersebut dilengkapi dengan hotel mewah, casino resort, dan pusat perbelanjaan barang mewah. Sehabis foto, kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Untuk mencapai food court di lantai 2, kami harus melewati kasino. Biasanya, penjaga kasino meminta passport. Hal ini dimaksudkan agar pengunjung di bawah usia 21 tahun dilarang memasuki kasino. Di dalam kasino juga kita dilarang merekam dan memoto ruangan.
Ada banyak menu pilihan di food court The Venetian. Tinggal memilih makanan sesuai yang kita inginkan. Area food court juga terbilang menarik. Langit-langit didesain mendung, lantai yang diberi kesan basah, lampu-lampu temaram yang menyejukkan, suasana di sana pun menjadi terkesan romantis.
Sehabis makan, kami segera melanjutkan petualangan yakni menghabiskan waktu dengan berfoto lalu sekitar pukul 15.00 Waktu Macau, kami melanjutkan perjalanan menuju Senado Square di mana terdapat bangunan bersejarah, salah satunya adalah Ruins of St. Paul (reruntuhan gereja tua) yang terkenal dan menjadi landmark Macau.
Ruins of St. Paul’s Macau adalah salah satu peninggalan Gereja Katedral terbesar di Asia. Eksotisme dari Ruins of St. Paul’s itu adalah bentuk bangunan gerejanya yang hanya meninggalkan sisi dinding bagian depan dari bangunan gereja. Menurut cerita, gereja dibangun tahun 1580, lalu terbakar pada tahun 1595, kemudian terbakar (lagi) tahun 1601. Setelah bangunan gereja berdiri kembali, terjadi kebakaran lagi pada tahun 1835. Pada tahun 2005, Ruins of St. Paul’s ditetapkan UNESCO sebagai salah satu warisan dunia yang harus dijaga dan dipelihara keabadiannya oleh otoritas setempat.
Ada banyak kuliner yang sangat terkenal di Macau namun yang sempat kami coba adalah egg tart Portugis. Untuk mendapatkannya, pengunjung bisa kunjungi gerai makanan yang bisa ditemukan hampir di seluruh daerah di Macau. Dengan harga Mop9, pengunjung sudah bisa menikmati cemilan yang dibuat dari pastry berbentuk mangkuk kecil yang ditengahnya diisi oleh custard telur yang manis serta lapisan karamel di atasnya.
Pukul 18.00 Waktu Macau, saatnya mengakhiri perjalanan. Kami yang bekerja sebagai BMI, waktu merupakan kendala terbesar untuk tidak leluasa menikmati liburan. Namun, itu tak menyurutkan saya dan kedua sahabat saya untuk datang kembali ke Macau dan menjelajani tempat-tempat yang belum dikunjungi. 




*FYI, feature perjalanan ini pernah dimuat di Koran Berita Indonesia (salah satu koran lokal berbahasa Indonesia yang terbit di Hong Kong.

Wednesday, 1 June 2016

NayBergokil : Telo oh Telo




Cerita ini asli saya alami. Setelah saya tulis, alhamdulillah berhasil dimuat di Koran APAKABAR edisi #19 tahun IX. Rumangsamu piye nak dadi aku ki? Wong Sundo tapi akeh kanca wong Jowo. Hahhaha

Telo oh Telo
Oleh : Riana Dewi

Sebelum bekerja pada majikan ini, aku pernah bekerja pada PaKaNek alias pasangan kakek nenek yang tinggal di North Point. Nenek orangnya cerewetnya pakai beudh. Udah gitu pelitnya minta duit. Udah gitu, bahasa yang dipakai sehari-hari itu adalah bahasa Hokien. Gimana gak mumet coba? Jauh banget dari apa yang kupelajari di penampungan. Tapi untungnya, ada kakek baik hati dan tidak sombong yang ternyata orang Jawa Surabaya yang sudah lama tinggal di Tiongkok. Beliau di Hong Kong hanya menikmati masa tua. Aku seorang mojang priangan. Tapi kalau pemirsa bertanya dari mana aku bisa bahasa Jawa? Ya, jawabnya adalah kakek. Meski rada ribet belajar bahasa Hokien dan Jawa dalam satu waktu, tapi demi dollar, apapun akan kulakukan. Dadi, ojo ngapusi aku yo …. #praktek
Sedari awal, agen bilang agar aku harus belajar cepat bahasa Hokien yang mana di rumah itu, Neneklah yang berkuasa. Jadi, di hari-hari pertama kerja, aku mulai belajar mengingat kosa kata bahasa Hokien. Caranya adalah dengan mencatatnya pada note yang selalu kubawa di saku beserta pulpen. Aku pun mulai bisa memahami bahasa Hokien walau cuma sedikit. Seperti, ciak : makan, buy chai : belanja, dheng : sup, chang sui : mandi, dll.
Malamnya, sambil melepas lelah, aku menelepon Kak Fika. Biasaa … hehe. Laporan gitu. Abisnya, kakak yang kenal gede di Hong Kong ini sangat sayang banget sama akyuh gityu. Jadi padanya, kuceritakan tentang apa yang terjadi di rumah tersebut.
“Kak, kosa kata bahasa Hokienku nambah lagi euy.” Curhatku padanya.
“Oh, ya? Apa saja coba?” tanyanya.
“Tadi nenek nunjuk ubi dan dia nyebut telo. Aku jadi tahu kalau bahasa Hokien ubi itu telo.”
Setelah menyelesaikan kalimatku, Kak Fika yang biasanya memujiku malah tertawa terbahak-bahak di sana. Aku bingung.
“Rina, telo itu bukan bahasa Hokien.Tapi Bahasa Jawa tahu. Kamu kena tipu nenek. Hahaha …” Ralatnya, kemudian tertawa lagi.
Mendengar itu, aku pun ikut tertawa walau dalam hati dongkol juga. Ugh, mana tahu kalau telo itu bahasa Jawa. Wong aku orang Sunda jeeehhh ….



Monday, 23 May 2016

Kisah inspiratif: Harga Sebuah Kerinduan

Ini adalah karya pertama saya di Hong Kong yang diikutsertakan dalam lomba menulis kisah inspiratif yang diadakan oleh Forum Lingkar Pena Hong Kong tahun 2012.
Alhamdulillah, suatu anugerah terindah yang Allah berikan sehingga atas izin-Nya, tulisan saya tersebut mendapat Juara 1. Berikut adalah karyanya:

Harga Sebuah Kerinduan
Oleh : Riana Dewi


Kubuka jendela balkon, nampak nuansa putih masih mendominasi langit, pun mentari tak menyembulkan sinarnya. Dingin. Yang ada adalah seruak kerinduan yang sejak dua tahun yang lalu, saat aku pertama kali menjejakkan kaki di tanah keterasingan, hingga sekarang, saat aku harus menuntaskan mimpi tuk hadapi realita, belum juga tersudahkan. Aku mengela napas lalu pelan aku buang kegelisahan yang selama beberapa hari terakhir ini menggalaui pikiranku, pembuat malam terasa panjang dan sebak.
Aku tatap kembali angkasa, satu persatu wajah menjelma indah di atas gumpalan awan. Senyum rekah dan binar mata mereka, akankah sama seperti saat terakhir kali aku tinggalkan mereka menuju Hong Kong? Hari ini, 11 Januari 2012, aku tunaikan janji. Janji di Januari yaitu bertandang sejenak ke kampung halaman untuk menemui mereka, keluargaku tercinta.

*
Diantara gemawan awan dan kerlip bebintang, malam itu aku melintasi langit. Bagai burung, aku melayang diangkasa raya. Menembus rembes sang waktu, bersenggama dengan rindu lalu sekejap saja, hati laksana tertukik saat pesawat yang aku tumpangi mendarat selamat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Nanar mata menatap sekeliling. Hawa panas meraupku. Serasa mimpi kembali. Padahal sekitar lima jam yang lalu aku masih berkutat dengan segala macam rutinitasku sebagai kungyan. Dan kini, aku berada di Indonesia, tanah kelahiranku.
Namun, tiba-tiba di tengah perjalanan...

“Maaf, Bu. Coba tunjukkan pasport ibu,” seorang petugas memakai baju seragam berwarna coklat yang tiba-tiba mendatangiku saat aku hendak melangkahkan kaki menuju pintu bertuliskan exit. Aku merogoh sesuatu ke dalam tas kecil yang tersangkut di tanganku lalu kutunjukkan benda itu ke petugas, pasport.
“Ibu salah jalan. Ke arah sana, ya,  Bu,” tangan kanannya menunjuk ke suatu arah.
Tanpa banyak tanya, aku langsung menuju ke arah yang ditunjukkan petugas tadi. Sampailah aku di sebuah lorong. Aku berdiri sejenak di sebuah tulisan “Selamat Datang Pahlawan Devisa.” Aku kulum senyum kemudian kulanjutkan kembali perjalananku. Dan sesampainya di ujung lorong...
“Ibu, mau kemana?” tanya salah satu petugas berseragam biru dengan badge di lengan bertuliskan BNP2TKI.
“Ini bukannya Terminal 2 ya, pak?” tanyaku balik setelah melihat kesibukan beberapa orang TKW, entah berasal dari negara mana sedang membeli kartu seluler. Bingung.
“Terminal 2 bukan di sini Ibu. Tapi kalau untuk para TKW emang harus berangkat dari sini menuju Terminal 4. Nah, ibu mau pulang, kan? Masukan dulu kopernya ke dalam bus, ya?” tawar petugas itu. Belum sempat aku menjawab iya atau tidak, salah seorang petugas lainnya membantu mengangkat koper beratku ke dalam bus yang akan membawa kami ke Terminal 4. Disana ada tempat aman dan terlindungi khusus para TKW, kata mereka.

Beberapa menit kemudian, bus yang membawaku beserta beberapa orang TKW lainnya keluar gerbang, menemus gelap malam. Ya, gelap karena ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 01.20 dini hari. Aku edarkan pandangan menyapu seluruh isi bus. Ada yang menangis ketika jaringan seluler membantu menyalurkan hasrat kerinduan mereka, ada yang bertukar pengalaman, ada yang terkantuk-kantuk sampai kepalanya kejedot ke tiang besi, lalu ada pula yang sibuk menghindar dari godaan petugas sedangkan aku, terpekur diam. ”Ada yang ga beres,” seru batinku.
*

Terbuktilah. Sesampainya di Terminal 4, aku dan TKW lainnya disuruh memasuki sebuah ruangan besar yang terdiri dari dua pintu yakni depan dan belakang serta berdinding kaca. Masing-masing pintu dijaga ketat oleh satpam-satpam yang dari tampang mereka terlihat mata duitan. Lantas, kami di suruh berdiri di belakang trolly, menunggu petugas mengambilkan satu persatu barang yang kami bawa.
Dua koper dan satu tas ransel besar diantar oleh petugas ke seorang ibu yang berdiri bersebelahan denganku. “Uang rokoknya mana, bu?” minta petugas itu terkesan memaksa. Tanpa berpikir banyak, uang pecahan dua puluh ribu terjulur gampang.
Alisku seketika mengernyit. Jarak koper dengan trolly hanya beberapa meter saja dan kami diharuskan mengeluarkan sejumlah uang untuk membayarnya? Semahal itukah? Sedangkan kami baru saja tiba hanya mempunyai lembar mata uang negara asal kami bekerja. Akhirnya terpaksa menukarkannya di money changer terdekat. Membayangkan mereka meraup keuntungan dari hasil membawakan koper dengan jarak sangat dekat, tak hanya alis bahkan kepalaku berdenyut lebih kencang dari sekedar sakit kepala biasa yang sering menjangkitiku.
Giliran koperku diturunkan oleh salah seorang petugas. Dengan gerak cepat, aku mengambil koper milikku. Sambil menatap tajam ke arah petugas itu, aku pun berlalu menuju tempat pengechek-an pasport tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.
“Silahkan beli tiket, Bu,” kata petugas setelah selesai mengecheck pasportku. Melihatku kebingungan, tangannya menunjuk ke sebuah loket pembelian tiket.
Wow...!!! Tarif ongkos travel yang sangat mencekik. Dan beruntung sekali aku dipinjami teman dari Hongkong untuk membawa simcard Indonesia miliknya sehingga aku bisa mengabarkan kondisi, keberadaan juga tragedi yang menimpaku saat itu ke keluarga yang sedang menanti kedatanganku di Terminal 2. Mengetahui hal ini, salah satu keluargaku memaksakan diri menyelinap masuk. Berunding dengan petugas. Namun setelah segala macam daya dan upaya telah dikerahkan, hasilnya tetap nihil. Mau tidak mau, aku diwajibkan membeli tiket travel. Dan lebih parahnya lagi, hanya untuk mendapatkan kartu tamu itu, keluarga yang menyelinap itu pun ditarif seratus ribu rupiah. Masya Allah...
Rasa penasaran yang menghantuiku, aku pun menanyakan kepada petugas mengenai Undang-Undang yang mewajibkan demikian, membeli tiket travel tanpa boleh adanya pihak keluarga yang menjemput. Kalaupun menjemput, keluarga dilarang membawa kami untuk ikut serta pulang bersama meski bukti otentik dinyatakan kami adalah sah keluarga mereka. Semuanya harus menggunakan jasa travel yang telah tersedia. Lagi-lagi terpaksa keluarga yang sudah jauh-jauh menjemput akhirnya pulang dan menunggu di rumah.
Mengingat alamat pasportku yang di Bandung, sudah pasti ratusan ribu harus aku keluarkan. Lama aku ber-lobby¬ dengan salah satu atasan mereka. Geram dengan ngeyelku akhirnya dibuatlah surat bahwa aku tidak berpulang ke alamat sesuai pasport melainkan ke keluarga yang letaknya tak jauh dari bandara. Dan mau gak mau, uang     Rp 140.000,-  harus aku keluarkan guna membungkam mulut para aparat sehingga masalah pun terselesaikan.
Eh, ternyata tidak. Setelah kami dipaksa membeli tiket dengan harga yang mencekik, harga sebotol air mineral dengan merek abal-abal pun bisa mencapai beberapa kali lipat dari harga aslinya. Dari jenis makanan, souvenir ecek-ecek sampai kartu telepon seluler di jual dengan harga tinggi. Sungguh mengenaskan andai manut begitu saja dengan hukum Indonesia yang berslogan manis namun berujung pada penderitaan berlapis akibat pemerasan terselubung tersebut.
Aku menyadari, keterbatasan mereka yang rata-rata adalah TKW Timur Tengah yang mayoritas berpendidikan dan berpengetahuan minim, peraturan yang sebenarnya mencekik itu tak mereka hiraukan. Asal bisa bertemu keluarga dengan selamat sudah lebih dari cukup. Selamat sampai tujuan setelah ratusan ribu bahkan jutaan keluar dari dompet lapuk. Ironis dan sungguh menyedihkan.
Aku membaca dan memahami ulang maksud Keputusan Pemerintah agar kami bisa pulang selamat ke pelukan keluarga masing-masing tanpa ada yang tercecer atau tersesat di perjalanan pulang. Namun yang tak kupahami, mengapa justru hal ini malah dijadikan cara lain untuk memeras kami yang sebelumnya di peras oleh sistem-sistem terselubung PPJTKI dan pemerintah yang mengatas namakan kebijakan.
Slogan-slogan yang bertebaran di sekeliling ruangan itu pun ternyata hanya bersifat penghias ruangan saja. Tanpa realisasi. Pahlawan devisa hanyalah slogan tak bermutu (bagi kami, namun bermutu bagi pemerintah).  Slogan “Dilarang Memberikan Uang Tips Kepada Petugas” pun hanya tulisan semata. Bullshit..!
Sudah nyata jelas di mataku, tak hanya satu petugas yang kerap meminta uang yang mereka sebut dengan “uang rokok”. Bahkan, ketika sang supir dan kernet yang membawa pulang, tak henti-hentinya meminta uang kepada kami. Padahal sampai rumah dengan selamat saja belum.
Kesal dengan perlakuan mereka, aku mengambil nota saat pembelian tiket dan segera aku tunjuk sebaris tulisan dan menyuruh supir itu membacanya. “Harga tersebut tanpa pungutan biaya lainnya.” Begitu tulisan di baris akhir nota itu.
“Baca. Jika mau lebih, minta kepada bapak yang sudah menandatangani kertas pembelian tiket ini. Bapak masih beruntung sudah saya kasih uang. Saya tak sebodoh seperti mereka, pak!” tandasku ketika aku sampai di depan rumah. Aku hanya mempertahankan jerih payah yang selama 2 tahun banting tulang, bekerja di Negeri Beton agar tak terbuang percuma dan dimanfaatkan oleh oknum-oknum mata duitan. Tampaklah kekecewaan dan amarah di wajah mereka. Tapi kali ini, giliran mereka yang tak bisa berbuat apa-apa setelah keluarga dan warga sekitar berhambur menyambut kedatanganku dengan haru.
*

Ashalatukhairumminannaum...
Adzan subuh menggema membahanakan jagat raya. Mentari menyembulkan sinarnya perlahan-lahan walau sedikit malu tertutup awan. Setidaknya tak lagi dingin karena hangatnya keluarga menyelubungi resah diri menggantinya dengan suka cita. Air mata pun tak terbendung lagi. Mengalirlah ia membasahi pipi. Air mata yang kurun dua tahun itu, hanya menetes dan menetes tanpa tahu dimana muaranya. Di sinilah, di dekap hangat pelukan keluarga tersayang. Pelukan seorang ibu yang menanti sabar kedatangan anaknya, pelukan seorang pangeran kecil yang menunggu bundanya pulang membawa serta harapan-harapannya. Adalah di sini, rumah kita..!!!
**
Dedicated for My Mom and My Fab.
God bless both of you.