Saturday, 30 July 2016

Lomba Blog Dies Natalis Universitas Terbuka ke-32




Empat Windu Membangun Bangsaku



Dengan Teknologi, Universitas Terbuka Menjangkau yang Tak Terjangkau


Masih teringat jelas di benak saya beberapa tahun yang lalu, saat saya masih bekerja di Negeri yang katanya menyajikan surga bagi para Buruh Migran Indonesia (BMI), Hong Kong. Menyadari bahwa saya tidak akan selamanya menjadi ‘abdi dalem’ di negeri orang, sayapun segera mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan kualitas diri menyongsong ‘the real adventures’ di Indonesia. Di samping membekali diri dengan belajar informal, impian saya sejak 10 tahun yang lalu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi itu tetap berkorbar di dada.
Hal inilah yang melandasi saya memilih Universitas Terbuka sebagai alternatif utama memperoleh pendidikan formal. Saya sendiri sudah mengamati sepak terjang Universitas Terbuka di Hong Kong sejak tahun 2013. Namun baru bisa bergabung dengan Universitas Terbuka Pokjar Hong Kong Non Sipas di masa registrasi 2014.2, jurusan Akuntansi.

Mahasiswa UTHK Non Sipas selepas UAS 2016.1

 Jika ada yang bilang usia masih menjadi hambatan dalam menempuh pendidikan, jika ada yang masih memandang sebelah mata terhadap TKI/BMI khususnya BMI HK, itu semua non sense. Universitas Terbuka seperti memberikan secercah pembuktian kepada dunia bahwasanya BMI HK pun berpendidikan dan bermartabat. Sebab terbuka di sini berarti mahasiswa yang mendaftar tak perlu merisaukan masalah usia, tempat tinggal, profesi, tahun kelulusan ijazah SMA/sederajat, waktu belajar, masa registrasi dan cara belajar mahasiswa. Semua lapisan masyarakat berhak memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.
Di saat dulu pembelajaran konvensional atau tatap muka antara dosen dan mahasiswa menjadi satu-satunya cara, kini dengan hadirnya proses pembelajaran berbasis internet yang UT sodorkan, proses belajar mengajar semakin mudah dan fleksibel. Mahasiswa tak perlu datang ke kelas untuk belajar, juga tak perlu bingung membagi waktu antara pekerjaan dan kuliah. Yang perlu dilakukan adalah dengan mengakses www.ut.ac.id untuk informasi lebih lanjut atau di saat ponsel berbasis android sudah mewabah, akses internet bisa dilakukan di mana pun dan kapan pun, sebisa dan sesering mungkin aktif mengikuti tutorial online yang bisa diakses di elearning.ut.ac.id guna memperoleh maksimal 30% kontribusi terhadap nilai akhir semester.
Selain itu, skema pelayanan dan pembelajaran di UT juga sangat fleksibel. UT mengoptimalkan beragam media pembelajaran mulai dari media cetak (modul) maupun media elektronik (audio, video, radio, televisi dan internet) untuk membantu mahasiswanya dalam memahami materi pembelajaran.
Tentunya tidak ada sesuatu yang sempurna. Di awal-awal masa tutorial online, saya dan beberapa teman merasa kurang puas dengan pelayanan tutor dalam menanggapi tutorial. Saya banyak mengamati pertanyaan dari teman mahasiswa yang tidak ditanggapi bahkan diabaikan begitu saja. Meski sudah dijawab oleh teman-teman yang lain di kelas tersebut, namun partisipasi aktif tutorlah yang kami harapkan. Baru ketika suatu hari mengadakan pertemuan dengan Bapak Drs. Maximus Gorky Sembiring, M.Sc selaku Ketua UPBJJ LN yang menaungi pokjar Non Sipas Hong Kong, saya pun mengetahui alasan mengapa terjadi demikian. Setelahnya, saya merasa bersyukur karena di semester selanjutnya, para tutor mulai aktif memberikan tanggapan mahasiswanya di tutorial online. Ini membuktikan bahwa Universitas Terbuka senantiasa berusaha dan memerhatikan keinginan mahasiswanya yang haus akan ilmu pendidikan.
Ada 2 jenis paket di UT yang bisa dipilih oleh calon mahasiswa, antara lain: 1). Paket Sipas adalah sistem pemaketan mata kuliah yang dirancang untuk membantu mahasiswa dalam menentukan mata kuliah yang akan diregistrasikan dan terintegrasi dengan layanan Tutorial Tatap Muka (TTM) serta penyediaan bahan ajar. 2). Paket Non Sipas adalah sistem pengambilan mata kuliah secara satuan tanpa mengikuti pemaketan dan tidak terintegrasi dalam layanan TTM serta penyediaan bahan ajar.
Meskipun skema paketan yang saya ambil adalah Non Sipas, yang dalam hal ini adalah tanpa TTM, beli bahan ajar sendiri dan lebih bertumpu kepada belajar sendiri, namun karena Hong Kong dan segala kecanggihan teknologi yang tersedia membawa mahasiswa pada kemudahan-kemudahan mengakses ilmu dari mesin pencari di internet. Proses pembelajaran jarak jauh yang UT sodorkan memang cocok buat kami yang sedang berada di perantauan, juga dengan jenis pekerjaan yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah majikan.
Kini saya sudah pulang ke Indonesia. Belajar di UT, di mana pun berada, seumpama tidak bekerja lagi di Hong Kong, kita bisa melanjutkan kuliah tanpa harus merasa takut pending yang berarti membuang waktu dengan tidak melanjutkan kuliah. Kita bisa memilih kantor Unit Pembelajaran Jarak Jauh (UPBJJ) yang terdekat dengan lokasi tempat tinggal kita. UPBJJ adalah unit pelaksana teknis UT di daerah. Adapun fungsi dan tugas UPBJJ-UT adalah sebagai tempat mahasiswa untuk melakukan kegiatan administratif akademik dan kegiatan akademik.
Sehingga terhitung sejak 1 Juli 2016, saya berniat melanjutkan studi di Indonesia, tepatnya pindah dari UPBJJ Luar Negeri ke UPBJJ Bogor tentunya dengan biaya lebih murah bila dibandingkan ketika saya masih terdaftar sebagai mahasiswa UT di Hong Kong. FYI, dengan diresmikannya UPBJJ Tarakan, UT telah memiliki 40 unit layanan yang tersebar di seluruh provinsi Indonesia, lho. Semakin memudahkan masyarakat Indonesia untuk menambah ilmu pengetahuan dan pendidikan, bukan?
Perbedaan yang mencolok antara Hong Kong dan Indonesia mulai saya rasakan adalah seputar internet. Namun saya tidak lantas berkecil hati. Sebab ternyata, bagi mahasiswa aktif Universitas Terbuka bisa menggunakan layanan wifi.id corner yang disediakan oleh PT. Telkom Indonesia. Mahasiswa UT bisa mengakses layanan ini di pusat keramaian seperti mall, bandara, stasiun, dll. Ini mengingatkan saya terhadap freewifi-nya Hong Kong. Sambil belajar, minum kopi? Why not! Toh, segala sesuatunya membutuhkan pengorbanan.

Screen Shoot tata cara penggunaan wifi.id

Sebagai pembuktian diri mengikuti arus mobilisasi dan globalisasi. UT selalu pintar memanfaatkan celah teknologi dalam melayani kebutuhan mahasiswanya. Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, saat ponsel berbasis android sudah mewabah, UT menargetkan kemudahan akses pembelajaran melalui ponsel pintar. Mahasiswa dapat mengunduh aplikasi UT Online di playstore. Lewat aplikasi ini, mahasiswa dapat mengakses materi kuliah, perpustakaan digital, memeriksa nilai secara daring, mengenal teman sekelas dan ujian secara daring.
Bahkan baru-baru ini, untuk memberikan kemudahan pembayaran biaya pendidikan mahasiswa, Bank BTN dan Universitas Terbuka bekerja sama dengan PT. Sumber Alfaria Trijaya, Tbk. (Alfa Group). Dengan ditandatanganinya perjanjian kerjasama antara UT dan BTN pada tanggal 2 Mei 2016 lalu di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC) maka resmilah transaksi dapat dilakukan secara tunai di Kantor Pos, Loket Bank BTN dan ATM BTN di seluruh Indonesia. Pembayaran uang kuliah juga bisa dilakukan secara tunai di 12.000 gerai Alfa Group. Cukup dengan menunjukkan Lembar Informasi Pembayaran (LIP) dan mahasiswa UT bisa menikmati pembayaran praktis, nyaman dan aman. Saya yang baru menetap kembali di Tanah Air tak perlu merasa risau dalam melanjutkan kuliah.
Dengan berbagai inovasi dan kemudahan baik dari segi pelayanan maupun fasilitas yang disodorkan, jangankan saya, wajar saja jika di tahun ke 32 Universitas Terbuka berkembang kini menjadi pilihan anak muda dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Namun ada hal utama yang harus kita lakukan demi menunjang sistem UT yang berbasis internet adalah agar jangan sampai kita buta teknologi. Sebab bila kita tidak bisa menyesuaikan diri dengan perubahan, maka kita akan terlindas oleh zaman dan tertinggal jauh di belakang.
Seperti UT yang selalu berusaha menjangkau yang tak terjangkau, bersama UT kita menjangkau cita-cita yang sebelumnya seperti tak terjangkau.



 Referensi: http://www.ut.ac.id

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari Universitas Terbuka dalam rangka memperingati HUT Universitas Terbuka ke-32. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan hasil jiplakan.”









Lomba Blog Dies Natalis Universitas Terbuka ke-32




Empat Windu Membangun Bangsaku



Dengan Teknologi, Universitas Terbuka Menjangkau yang Tak Terjangkau


Masih teringat jelas di benak saya beberapa tahun yang lalu, saat saya masih bekerja di Negeri yang katanya menyajikan surga bagi para Buruh Migran Indonesia (BMI), Hong Kong. Menyadari bahwa saya tidak akan selamanya menjadi ‘abdi dalem’ di negeri orang, sayapun segera mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan kualitas diri menyongsong ‘the real adventures’ di Indonesia. Di samping membekali diri dengan belajar informal, impian saya sejak 10 tahun yang lalu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi itu tetap berkorbar di dada.
Hal inilah yang melandasi saya memilih Universitas Terbuka sebagai alternatif utama memperoleh pendidikan formal. Saya sendiri sudah mengamati sepak terjang Universitas Terbuka di Hong Kong sejak tahun 2013. Namun baru bisa bergabung dengan Universitas Indonesia Pokjar Hong Kong Non Sipas di masa registrasi 2014.2, jurusan Akuntansi.

Mahasiswa UTHK Non Sipas selepas UAS 2016.1

 Jika ada yang bilang usia masih menjadi hambatan dalam menempuh pendidikan, jika ada yang masih memandang sebelah mata terhadap TKI/BMI khususnya BMI HK, itu semua non sense. Universitas Terbuka seperti memberikan secercah pembuktian kepada dunia bahwasanya BMI HK pun berpendidikan dan bermartabat. Sebab terbuka di sini berarti mahasiswa yang mendaftar tak perlu merisaukan masalah usia, tempat tinggal, profesi, tahun kelulusan ijazah SMA/sederajat, waktu belajar, masa registrasi dan cara belajar mahasiswa. Semua lapisan masyarakat berhak memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.
Di saat dulu pembelajaran konvensional atau tatap muka antara dosen dan mahasiswa menjadi satu-satunya cara, kini dengan hadirnya proses pembelajaran berbasis internet yang UT sodorkan, proses belajar mengajar semakin mudah dan fleksibel. Mahasiswa tak perlu datang ke kelas untuk belajar, juga tak perlu bingung membagi waktu antara pekerjaan dan kuliah. Yang perlu dilakukan adalah dengan mengakses www.ut.ac.id untuk informasi lebih lanjut atau di saat ponsel berbasis android sudah mewabah, akses internet bisa dilakukan di mana pun dan kapan pun, sebisa dan sesering mungkin aktif mengikuti tutorial online yang bisa diakses di elearning.ut.ac.id guna memperoleh maksimal 30% kontribusi terhadap nilai akhir semester.
Selain itu, skema pelayanan dan pembelajaran di UT juga sangat fleksibel. UT mengoptimalkan beragam media pembelajaran mulai dari media cetak (modul) maupun media elektronik (audio, video, radio, televisi dan internet) untuk membantu mahasiswanya dalam memahami materi pembelajaran.
Tentunya tidak ada sesuatu yang sempurna. Di awal-awal masa tutorial online, saya dan beberapa teman merasa kurang puas dengan pelayanan tutor dalam menanggapi tutorial. Saya banyak mengamati pertanyaan dari teman mahasiswa yang tidak ditanggapi bahkan diabaikan begitu saja. Meski sudah dijawab oleh teman-teman yang lain di kelas tersebut, namun partisipasi aktif tutorlah yang kami harapkan. Baru ketika suatu hari mengadakan pertemuan dengan Bapak Drs. Maximus Gorky Sembiring, M.Sc selaku Ketua UPBJJ LN yang menaungi pokjar Non Sipas Hong Kong, saya pun mengetahui alasan mengapa terjadi demikian. Setelahnya, saya merasa bersyukur karena di semester selanjutnya, para tutor mulai aktif memberikan tanggapan mahasiswanya di tutorial online. Ini membuktikan bahwa Universitas Terbuka senantiasa berusaha dan memerhatikan keinginan mahasiswanya yang haus akan ilmu pendidikan.
Ada 2 jenis paket di UT yang bisa dipilih oleh calon mahasiswa, antara lain: 1). Paket Sipas adalah sistem pemaketan mata kuliah yang dirancang untuk membantu mahasiswa dalam menentukan mata kuliah yang akan diregistrasikan dan terintegrasi dengan layanan Tutorial Tatap Muka (TTM) serta penyediaan bahan ajar. 2). Paket Non Sipas adalah sistem pengambilan mata kuliah secara satuan tanpa mengikuti pemaketan dan tidak terintegrasi dalam layanan TTM serta penyediaan bahan ajar.
Meskipun skema paketan yang saya ambil adalah Non Sipas, yang dalam hal ini adalah tanpa TTM, beli bahan ajar sendiri dan lebih bertumpu kepada belajar sendiri, namun karena Hong Kong dan segala kecanggihan teknologi yang tersedia membawa mahasiswa pada kemudahan-kemudahan mengakses ilmu dari mesin pencari di internet. Proses pembelajaran jarak jauh yang UT sodorkan memang cocok buat kami yang sedang berada di perantauan, juga dengan jenis pekerjaan yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah majikan.
Kini saya sudah pulang ke Indonesia. Belajar di UT, di mana pun berada, seumpama tidak bekerja lagi di Hong Kong, kita bisa melanjutkan kuliah tanpa harus merasa takut pending yang berarti membuang waktu dengan tidak melanjutkan kuliah. Kita bisa memilih kantor Unit Pembelajaran Jarak Jauh (UPBJJ) yang terdekat dengan lokasi tempat tinggal kita. UPBJJ adalah unit pelaksana teknos UT di daerah. Adapun fungsi dan tugas UPBJJ-UT adalah sebagai tempat mahasiswa untuk melakukan kegiatan administratif akademik dan kegiatan akademik.
Sehingga terhitung sejak 1 Juli 2016, saya berniat melanjutkan studi di Indonesia, tepatnya pindah dari UPBJJ Luar Negeri ke UPBJJ Bogor tentunya dengan biaya lebih murah bila dibandingkan ketika saya masih terdaftar sebagai mahasiswa UT di Hong Kong. FYI, dengan diresmikannya UPBJJ Tarakan, UT telah memiliki 40 unit layanan yang tersebar di seluruh provinsi Indonesia, lho. Semakin memudahkan masyarakat Indonesia untuk menambah ilmu pengetahuan dan pendidikan, bukan?
Perbedaan yang mencolok antara Hong Kong dan Indonesia mulai saya rasakan adalah seputar internet. Namun saya tidak lantas berkecil hati. Sebab ternyata, bagi mahasiswa aktif Universitas Terbuka bisa menggunakan layanan wifi.id corner yang disediakan oleh PT. Telkom Indonesia. Mahasiswa UT bisa mengakses layanan ini di pusat keramaian seperti mall, bandara, stasiun, dll. Ini mengingatkan saya terhadap freewifi-nya Hong Kong. Sambil belajar, minum kopi? Why not! Toh, segala sesuatunya membutuhkan pengorbanan.

Screen Shoot tata cara penggunaan wifi.id

Sebagai pembuktian diri mengikuti arus mobilisasi dan globalisasi. UT selalu pintar memanfaatkan celah teknologi dalam melayani kebutuhan mahasiswanya. Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, saat ponsel berbasis android sudah mewabah, UT menargetkan kemudahan akses pembelajaran melalui ponsel pintar. Mahasiswa dapat mengunduh aplikasi UT Online di playstore. Lewat aplikasi ini, mahasiswa dapat mengakses materi kuliah, perpustakaan digital, memeriksa nilai secara daring, mengenal teman sekelas dan ujian secara daring.
Bahkan baru-baru ini, untuk memberikan kemudahan pembayaran biaya pendidikan mahasiswa, Bank BTN dan Universitas Terbuka bekerja sama dengan PT. Sumber Alfaria Trijaya, Tbk. (Alfa Group). Dengan ditandatanganinya perjanjian kerjasama antara UT dan BN pada tanggal 2 Mei 2016 lalu di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC) maka resmilah transaksi dapat dilakukan secara tunai di Kantor Pos, Loket Bank BTN dan ATM BTN di seluruh Indonesia. Pembayaran uang kuliah juga bisa dilakukan secara tunai di 12.000 gerai Alfa Group. Cukup dengan menunjukkan Lembar Informasi Pembayaran (LIP) dan mahasiswa UT bisa menikmati pembayaran praktis, nyaman dan aman. Saya yang baru menetap kembali di Tanah Air tak perlu merasa risau dalam melanjutkan kuliah.
Dengan berbagai inovasi dan kemudahan baik dari segi pelayanan maupun fasilitas yang disodorkan, jangankan saya, wajar saja jika di tahun ke 32 Universitas Terbuka berkembang kini menjadi pilihan anak muda dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Namun ada hal utama yang harus kita lakukan demi menunjang sistem UT yang berbasis internet adalah agar jangan sampai kita buta teknologi. Sebab bila kita tidak bisa menyesuaikan diri dengan perubahan, maka kita akan terlindas oleh zaman dan tertinggal jauh di belakang.
Seperti UT yang selalu berusaha menjangkau yang tak terjangkau, bersama UT kita menjangkau cita-cita yang sebelumnya seperti tak terjangkau.



 Referensi: http://www.ut.ac.id

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari Universitas Terbuka dalam rangka memperingati HUT Universitas Terbuka ke-32. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan hasil jiplakan.”









Friday, 8 July 2016

Nay's Adventures: (Random) Jalan-jalan H+1 Lebaran 2016

Hari Jum'at, (8/7), adalah jadwal keliling bareng salah satu sahabat terbaik masa putih abu, Mega Rahmawati. Sedari kemarin, Kamis, (7/7), via BBM, wanita yang akrab disapa Ega  itu bilang akan menjemput saya sekitar jam 10 pagi. Untung banget ada dia. Secara untuk daerah Kuningan dan sekitarnya, karena pesatnya pembangunan, juga karena saya yang kelamaan ngelantur ngubek-ngubek di negeri Andy Lau, ada beberapa titik lokasi yang missed dari kenangan masa lampau saya sehingga mau tak mau saya membutuhkan tour guide (sopan dikit dari pada disebut tukang ojek hahha).

Well. Yang namanya Indo di mana-mana (mungkin) terkenal dengan jam ngaretnya. Dari waktu yang dijanjikan, eh gak tahunya datang jam 11 an. Ya, saya sih beruntung saja, karena saya masih dejavu dan penyesuaian diri dengan waktu dan kebiasaan antara Hong Kong dan Indo (ngeles sih ...)

Well. Tujuan pertama adalah rumah Nene alias Neni Siti Nurbaeti. FYI, saya, Ega dan Neni ini tripletnya Necis. Kemana-mana selalu bertiga. Meski waktu kelas 3 pisah kelas, namun ketika jam istirahat, kami selalu bersama. Hal ini membuat kami terkenal. Hahaha. Kurang satu, ditanya. Kasusnya mirip banget sama sahabat segelintir saya di Hong Kong: Mbak Enda dan Nanny Ocuz. Ahh saya jadi kangen kalian. Hiks :'(

Sebelum sampai ke rumah Nene, kami mampir dulu di konternya Ibu Paupau alias Ibef sambil isi pulsa. Kamipun selpi bareng.

Jepret, jepret, jepret, saya dan Ega capcus melanjutkan perjalanan.

Setibanya di depan pagar rumah Nene, kami disambut A'Ivan, suaminya Nene, lalu muncullah wanita yang sering kami buli itu. Ya, Nene ini ibarat Nanny Ocuz. Sering dibuli tapi tetap sayang kepada kami. Hahhaha. :P
Sebenarnya tujuan saya dan Ega ke rumah Nene ini buat ngajak ngebakso. Tapi Ega punya ide lain yakni makan mie ramen di Ramen Saga.

Dan seperti apa kesan saya setelah mencicipi makanan tersebut?
Berhubung di sini sudah jam 22.35, jadi to be continued yak :P

Friday, 24 June 2016

Nay's Wishes : When My Reborn Day Comes, 24 June





Dua kali saya mengalami hari menakjubkan ini. Hari di mana perayaan kelahiran saya ada di bulan penuh berkah Ramadan. Masih teringat dalam benak saya. Tahun 2015, hari ulang tahun saya ada di hari Rabu. Saya menyebutnya sebagai titik kilas balik. Di hari tersebut, saya banyak mengintrosfeksi diri saya agar di masa depan, saya bisa menjadi sosok baru yang lebih baik lagi.
Lantas, saya harus mengucapkan alhamdulillah atas segala nikmat dan anugerah yang Allah berikan untuk saya. Selain saya bisa mencecap kembali keharuan dan hiruk pikuk  bulan suci Ramadan 2016, kali ini pun, hari perayaan kelahiran saya masih ada di bulan penuh berkah ini. Subhanallah-nya lagi, 24 Juni tahun 2016 ada di hari Jumat!
Berdasarkan copas dari salah satu website:
Dari Abu Lubabah bin Abdil Mundzir, dia berkata: Bersabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Sesungguhnya hari Jumat adalah Sayyidul Ayyam (pimpinan hari-hari), keagungannya ada pada sisi Allah, dan dia lebih agung di sisi Allah dibanding hari Idul Adha dan Idul Fitri. Padanya ada lima hal istimewa: pada hari itu Allah menciptakan Adam, pada hari itu Allah menurunkan Adam ke bumi, pada hari itu Allah mewafatkan Adam, pada hari itu ada waktu yang tidaklah seorang hamba berdoa kepada Allah melainkan akan dikabulkan selama tidak meminta yang haram, dan pada hari itu  terjadinya  kiamat. Tidaklah malaikat muqarrabin, langit, bumi, angin, gunung, dan lautan, melainkan mereka ketakutan pada hari Jumat.”(HR. Ibnu Majah No. 1083. Ahmad No. 15547, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 4511, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 2973, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 817, Al Bazzar No. 3738. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 2279).

Bukan tanpa rencana baik jika Allah memberikan kesempatan bagi saya untuk  merasakan double euphoria. Tak lain dan tak bukan adalah tentang doa yang membumbung. Allah menjanjikan sesiapapun yang berdoa di hari Jumat maka doanya akan dikabulkan. Ucapan selamat ulang tahun yang dibarengi doa tulus, sesuai janji-Nya, saya yakin doa-doa yang kini tengah membumbung berpencar memenuhi selasar jagat raya tersebut akan segera terkabul. Aamiin … Rasa yang pernah hilang, kini mencuat lagi. Saya menjadi lebih paham lagi tentang makna kebersamaan, welas asih, kepekaan dan menguatkan satu sama lain.
Jujur, dengan adanya sahabat-sahabat yang saling mengingatkan tentang kebaikan, saya merasa terberkati. Saya merasa keberadaan saya diartikan. Lantas, saya patut berterima kasih kepada sahabat-sahabat terbaik saya yang sudah mendampingi saya selama setahun ke belakang.

1. 
NORaE. Kalau bahasa Korea itu diartikan lagu. Namun sejujurnya itu adalah singkatan dari Neli, Ocuz, Riana and Enda. Fantastic four yang berjuang demi keluarga yang dicintai. Lagu yang nada-nadanya harus lengkap. Jika tidak, lagu akan sumbang. Sebab nada tersebut adalah kami. NORaE.


 2.     
Sahabat Muara. Awalnya saya gak suka dengan nama ini. Sebab menurut saya, nama Muara itu kurang ketjeh untuk band. Tapi, ketika mendengar makna dari Bang Joe, The Founder (ciyeee …), saya mah cuma ber’oh kecil. Maknanya gak jauh beda dengan semboyan Negeri kita tertjintah. Yup, apalagi kalo bukan Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda namun tetap satu juga. Satu di musik.


3.     
Sahabat Seperguruan. Dari namanya, saya memang sedang berguru ilmu di salah satu pusat ilmu. Banyak suka dan duka kami lalui bersama. Adanya kalian, saya bisa kuat menghadapi intrik dan masalah, juga kemelut lainnya. Pokoknya lope lope deh.



4.  
    Sahabat Segerombol. Sahabat Segerombol ini digawangi oleh Bulek Oneth. Lawan Segerombol adalah Segelintir. Baru beberapa hari lalu saja mereka terlihat akrab. Oh iya, Segerombol punya band. Namanya Yawes Band. Punya Olshop juga. Kapan lalu saya ajak mereka duet. Tapi gak jadi lantaran sapu Piktoria Park-nya dipakai Ayi klining serpis.



5.      Sahabat pesbukErs. Adalah mereka yang terjaring ke dalam akun sosial milik saya pribadi, Riana Dewi. Terima kasih atas hiburan dan pernak pernik aneh-aneh dunia maya. Terima kasih juga atas doa dan likes di akun saya. Tanpa pengamatan kalian, tentunya saya masih apalah apalah.




6.      Sahabat yang tidak bisa saya sebutkan di sini.


Sahabat itu …

Adalah mereka yang siap menggenggam tangan kita dalam berbagai keadaan, yang memberikan ruang nyaman ketika badai kehidupan melanda, yang ketika jarak terbentang namun sosoknya tetap berada di dalam hati dan doa.

Sahabat itu …adalah keluarga yang kita pilih.

Meskipun kebersamaan kita hanya sebatas kontrak kerja dan izin Allah, saya mengharapkan, di mana pun dan kapanpun berada, sertakan saya diantara doa dan napas sahabat semua. Sebab saya pun akan demikian.

Saya berdoa agar sahabat semua selalu dikaruniai oleh Allah SWT kesuksesan dan kebahagiaan yang hakiki, nikmat panjang umur dan sehat, diberkahi tiap langkahnya, dimudahkan segala urusannya, mengharamkan tubuh kami dari api neraka, dan semoga Allah SWT berkenan mengumpulkan kami kembali di suatu masa terindah. Aamiin …

Akhir kata, sampai jumpa di Indo yuaaa ….













Saturday, 25 june 2016

11.11 AM

The Leighton Hills















Monday, 20 June 2016

Nay's Poem : Renjana

Tercetusnya membuat tulisan ini adalah ketika pulang libur. Saat itu saya habis antar Mbak Enda dari halte bus. Sambil menenteng banyak barang, saya langkahkan kaki menuju apartemen Enyak. Di situlah saya melihat bulan hampir purnama bersinar terang di antara awan gemawan.
Menapaki jalan setapak itu, haru menyeruak di hati. Mengingat beberapa hari lagi saya akan pulang ke Indonesia, batin saya teriris. Saya terpisah dengan sahabat yang tersayang dan selalu saya banggakan.

Saya sadari betul bahwa pengorbanan itu akan selalu ada manakala kita disudutkan pada dua pilihan. Hanya keputusan bijaksana yang menjadikan hati akan tetap tentram tanpa penyesalan.

Insya Allah ...
Dengan mengucap bismillahirahmanirrahim, saya akan menunggu kedatangan kalian, di suatu masa terindah, atas izin Allah SWT.

Renjana
Oleh: Riana Dewi

Wajah-wajah hadir dalam hidup dan benak
Tawa canda lebar bergelayut di pelupuk
Kenangan menjelma kisah klasik

Sesak napas memburu tangis
Langkah terseok di jalan setapak
Batin bergemuruh luapkan emosi
Satu tetes
Dua tetes
Tiga tetes
Pipi basah

Lalu, kulihat bulan menggantung sendiri
Teguh, meski kesepian
Sementara aku, ada kalian di sisi
Teguh, meski dalam kenangan

By: Nay
Sunday, 19June2016
9.56 pm

Terima kasih telah membuat saya ada.

#Kenangan #CountingTheDays
#iwillmissyouall #Segelintir #Segerombol #Seperguruan #Semuara #Seempedu